Senin, 04 Mei 2015

Amal

Buah dari ilmu
Attaubah 105
Maratibul 'amal
1. Perbaikan diri
a. Salimul aqidah
b. Shahihul ibadah
c. Matinul quluq
d. Qowiyyul jism
e. Qodirun 'alalkasbi
f. Musaqqoful fikri
g. Mujahadul 
h. Haritsun alal waqti
I. Rapi
J. Bermanfaat
2. Keluarga Muslim (baitul Muslim)
3. Membimbing masyarakat (irsyadul mustama')
4. Membebaskan negeri yg terjajah (tahrirul wathan)
5. Perbaikan pemerintahan (islahul hukmah)
6. Menegakkan Negara Islam 
7. Peradaban dunia berdasar Islam (Ustadzatul 'alam)   

Pr tbp

Keputraan sman 4
Sdm liqo' di sman 3 ?

Badai itu memberikan tenaga lebih untuk perahu ....

Oleh Abdullah Haidir, Lc
...
Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan.

Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu.

Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan.

Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!'

Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang,

'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)

Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan."

Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.


*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi


Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih Maha Penyayang,
Dewasa ini begitu berkembang pemikiran-pemikiran baru yang lahir seiring dengan perkembangan teknologi dan juga era globalisasi. Sebagai seorang muslim tentunya perlu adanya sikap kehati-hatian jika tidak akan juga tergerus dengan pemikiran-pemikiran baru tersebut. Maksud saya kita sebagai seorang muslim mesti sebisa mungkin tetap mempertahankan pemikiran islam yang orisinal sesuai ajaran Rosulullah. Perlu diingat bahwa suatu amal akan diterima jika amal itu memenuhi dua syarat yakni ditujukan karena Allah semata dan sesuai dengan ajaran Rosul.
Oke kawan penting rasanya kalau membahas yang nama pemikiran-pemikiran baru yang bisa merusak pemikiran orisinal islam jika tidak diantisipasi sejak dini. Pemikiran baru itu biasa disebut SIPILIS, itu adalah sebuah singkatan dari Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Maka pada kesempatan kali ini ijinkan saya membahas pada poin ketiga liberalisme.
Mencermati berbagai perkembangan liberal di kalangan umat islam, setidaknya ada tiga aspek penting dalam islam yang sedang gencar mengalami liberalisasi saat ini, yaitu:
- Syariat islam, dilakukan dengan perubahan metodologi ijtihad
- Al-qur’an dan tafsir Al-qur’an, dengan melakukan dekonstruksi konsep wahyu dalam islam dan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-qur’an
- Aqidah islam, dengan penyebaran paham pluralism Agama.
1. Dalam aspek syariat, berbagai hokum-hukum yang tetap (qath’iy) dibongkar dan diubah untuk disesuaikan dengan zaman, seperti hokum perzinahan, hokum homoseksual, hokum murtad, perkawinan antaragama dan sebagainya. Bagi kaum liberal, maka tidak ada yang tetap dalam agama, sebab mereka memandang agama adalah bagian dari proses dinamika sejarah, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani liberal dalam memandang agama mereka. Padahal asal kita tahu sendiri islam bukanlah agama evolutif, yang berkembang mengikuti zaman. Agama sudah sempurna sejak awal (QS: Al-maidah 3) “…pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku Cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku Ridhai Islam sebagai agamamu…. “ sejak lahirnya islam sudah dewasa bukan lahir bayi lalu berkembang menjadi dewasa sebagaimana agama-agama sejarah dan budaya seperti Yahudi, nasrani dan sebagainya. Oleh karena itu kawanku semua bahwa konsep dasar aqidah dan ritual (ibadah) dalam islam sudah bersifat final tanpa adanya babak penyisihan ataupun knockout lagi hehe maaf lagi demam bola oke focus lagi jadi kesimpulannya islam adalah bukan agama sejarah camkan itu.
2. Selanjutnya dalam aspek Al-qur’an umat islam khususnya kita warga Indonesia juga sedang memasuki babak baru , dengan dikembangkannya metode studi kritik Qur’an, mengikuti metode studi kritik Bibel. Desakralisasi Al-qur’an sedang dilakukan dengan massif. Kasus penginajakan lafal Allah di IAIN Surabaya, untuk dicermati dalam kasus ini adalah cara pikir dengan penuh kesadaran menginjak lafal Allah itu merupakan sebuah cara piker yang salah dan sangat naïf. Tapi dari cara berpikir yang memandang Qur’an sebagai produk budaya itulah sehingga ia melakukan tindakan menginjak lafal Allah. Dia bukan sedang bersandiwara, dia telah membuktikan dengan ilmu yang salah melahirkan tindakan yang salah. Inilah sebuah contoh, dahsyatnya sebuah kerusakan ilmu,
3. Pluralisme agama berarti bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi menurut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama bias dikatakan Tuhan siapa pun namaNya tidak menjadi masalah. Perkataan “ semua agama benar “ atau “ semuanya benar” juga tidak secara konsisten oleh pengusung ide pluralism agama, karena pada saat yang sama mereka juga merasa benar sendiri dan menyalahkan para pemeluk agama yang meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Sebagai informasi saja buat kawanku semuanya ternyata paham liberal itu bagai jamur di kala musim hujan dimana pahamnya begitu berkembang pesat tidal lagi pada lingkungan yang jauh dari agama melainkan yang sehari-hari bergelut dalam mempelajari seperti kasus penginjakan lafal Allah di IAIN. Youp dalam kalangan perguruan tinggi semisal IAIN atau sekarang berubah menjadi UIN itulah paham itu tumbuh subur terutama di pucuk pimpinannya walaupun minoritas namun dampaknya begitu besar. Beberapa tokoh liberal antara lain Mukti Ali, gus dur, nurcholish madjid, syarif hidayatullah dan masih banyak lagi.

29-12-10
Moslem_dcx @home

Ahad november 1

Bismillah ...
Alhamdulillah bisa menikmati hari ahad pertama di hampir penghujung tahun. Diawali bangun pagi 10 menit sebelum shubuh menyegarkan fisik dengan mandi, lanjut menuju surau untuk menegakkan shubuh berjamaah dengan warga.
Seusai dari surau diri ini tak kuasa membendung akan rasa kantuk 

Cinta, kerja, harmony

Cinta 'vertikal' 
Mahabbatullah
  - Mengingat nikmat Allah
  - Taat kepada Aĺlah 
  - Berkorban Di jalan Aĺlah 
  - Mengingat Aĺlah / dzikir
     - kepada Aĺlah tasbih
     - Kepada rosulullah sholawat
     - Kepada diri sendiri istighfar
Kerja 'horizontal'
AMAL
- Ta'abudy
- Da'awy
- Ijtamai 
Harmony 'hasil'
Jaman rosulullah piagam madinah
Ukhuwah islamiyah