Menerima Jasa Setting dan Pasang Wifi Area Malang Raya
Minggu, 07 November 2021
Selasa, 01 Januari 2019
Demam tinggi anak
Internet of thing (Iot)
Sejak dicetuskannya industri 4.O pada tahun 2011 di jerman istilah Internet of thing (Iot) semakin sering dibahas. Apa sebenarnya Iot, secara bahasa berarti internet untuk semua. Dari beberapa artikel online yang membahas tentang industri 4.O Lot berarti semua alat nanti saling terhubung dan bisa saling berkomunikasi serta bisa dikendalikan dari jarak jauh. Kalau kita mengenal istilah internet pada tahun 2000an sebenarnya hampir sama konsepnya dimana jaringan komputer bisa terhubung secara internasional, dimana banyak komputer (server) yang bisa saling terhubung sehingga antar komputer bisa saling tukar informasi walaupun jarak jauh misal antar negara atau benua. Ketika kita akses youtube sebenarnya kita lagi terhubung dengan komputer (server) youtube dan mengakses informasi di dalam komputer tersebut. Sedangkan untuk Iot sendiri yang saling terhubung nanti tidak hanya komputer tetapi semua alat aktif yang memiliki identitas (mac address) bisa saling terhubung dan dikendalikan.
Senin, 04 Mei 2015
Amal
Attaubah 105
Maratibul 'amal
1. Perbaikan diri
a. Salimul aqidah
b. Shahihul ibadah
c. Matinul quluq
d. Qowiyyul jism
e. Qodirun 'alalkasbi
f. Musaqqoful fikri
g. Mujahadul
h. Haritsun alal waqti
I. Rapi
J. Bermanfaat
2. Keluarga Muslim (baitul Muslim)
3. Membimbing masyarakat (irsyadul mustama')
4. Membebaskan negeri yg terjajah (tahrirul wathan)
5. Perbaikan pemerintahan (islahul hukmah)
6. Menegakkan Negara Islam
7. Peradaban dunia berdasar Islam (Ustadzatul 'alam)
Badai itu memberikan tenaga lebih untuk perahu ....
...
Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan.
Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu.
Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan.
Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!'
Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang,
'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)
Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan."
Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.
*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi
Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih Maha Penyayang,
Dewasa ini begitu berkembang pemikiran-pemikiran baru yang lahir seiring dengan perkembangan teknologi dan juga era globalisasi. Sebagai seorang muslim tentunya perlu adanya sikap kehati-hatian jika tidak akan juga tergerus dengan pemikiran-pemikiran baru tersebut. Maksud saya kita sebagai seorang muslim mesti sebisa mungkin tetap mempertahankan pemikiran islam yang orisinal sesuai ajaran Rosulullah. Perlu diingat bahwa suatu amal akan diterima jika amal itu memenuhi dua syarat yakni ditujukan karena Allah semata dan sesuai dengan ajaran Rosul.
Oke kawan penting rasanya kalau membahas yang nama pemikiran-pemikiran baru yang bisa merusak pemikiran orisinal islam jika tidak diantisipasi sejak dini. Pemikiran baru itu biasa disebut SIPILIS, itu adalah sebuah singkatan dari Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Maka pada kesempatan kali ini ijinkan saya membahas pada poin ketiga liberalisme.
Mencermati berbagai perkembangan liberal di kalangan umat islam, setidaknya ada tiga aspek penting dalam islam yang sedang gencar mengalami liberalisasi saat ini, yaitu:
- Syariat islam, dilakukan dengan perubahan metodologi ijtihad
- Al-qur’an dan tafsir Al-qur’an, dengan melakukan dekonstruksi konsep wahyu dalam islam dan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-qur’an
- Aqidah islam, dengan penyebaran paham pluralism Agama.
1. Dalam aspek syariat, berbagai hokum-hukum yang tetap (qath’iy) dibongkar dan diubah untuk disesuaikan dengan zaman, seperti hokum perzinahan, hokum homoseksual, hokum murtad, perkawinan antaragama dan sebagainya. Bagi kaum liberal, maka tidak ada yang tetap dalam agama, sebab mereka memandang agama adalah bagian dari proses dinamika sejarah, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani liberal dalam memandang agama mereka. Padahal asal kita tahu sendiri islam bukanlah agama evolutif, yang berkembang mengikuti zaman. Agama sudah sempurna sejak awal (QS: Al-maidah 3) “…pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku Cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku Ridhai Islam sebagai agamamu…. “ sejak lahirnya islam sudah dewasa bukan lahir bayi lalu berkembang menjadi dewasa sebagaimana agama-agama sejarah dan budaya seperti Yahudi, nasrani dan sebagainya. Oleh karena itu kawanku semua bahwa konsep dasar aqidah dan ritual (ibadah) dalam islam sudah bersifat final tanpa adanya babak penyisihan ataupun knockout lagi hehe maaf lagi demam bola oke focus lagi jadi kesimpulannya islam adalah bukan agama sejarah camkan itu.
2. Selanjutnya dalam aspek Al-qur’an umat islam khususnya kita warga Indonesia juga sedang memasuki babak baru , dengan dikembangkannya metode studi kritik Qur’an, mengikuti metode studi kritik Bibel. Desakralisasi Al-qur’an sedang dilakukan dengan massif. Kasus penginajakan lafal Allah di IAIN Surabaya, untuk dicermati dalam kasus ini adalah cara pikir dengan penuh kesadaran menginjak lafal Allah itu merupakan sebuah cara piker yang salah dan sangat naïf. Tapi dari cara berpikir yang memandang Qur’an sebagai produk budaya itulah sehingga ia melakukan tindakan menginjak lafal Allah. Dia bukan sedang bersandiwara, dia telah membuktikan dengan ilmu yang salah melahirkan tindakan yang salah. Inilah sebuah contoh, dahsyatnya sebuah kerusakan ilmu,
3. Pluralisme agama berarti bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi menurut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama bias dikatakan Tuhan siapa pun namaNya tidak menjadi masalah. Perkataan “ semua agama benar “ atau “ semuanya benar” juga tidak secara konsisten oleh pengusung ide pluralism agama, karena pada saat yang sama mereka juga merasa benar sendiri dan menyalahkan para pemeluk agama yang meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Sebagai informasi saja buat kawanku semuanya ternyata paham liberal itu bagai jamur di kala musim hujan dimana pahamnya begitu berkembang pesat tidal lagi pada lingkungan yang jauh dari agama melainkan yang sehari-hari bergelut dalam mempelajari seperti kasus penginjakan lafal Allah di IAIN. Youp dalam kalangan perguruan tinggi semisal IAIN atau sekarang berubah menjadi UIN itulah paham itu tumbuh subur terutama di pucuk pimpinannya walaupun minoritas namun dampaknya begitu besar. Beberapa tokoh liberal antara lain Mukti Ali, gus dur, nurcholish madjid, syarif hidayatullah dan masih banyak lagi.
29-12-10
Moslem_dcx @home
Ahad november 1
Alhamdulillah bisa menikmati hari ahad pertama di hampir penghujung tahun. Diawali bangun pagi 10 menit sebelum shubuh menyegarkan fisik dengan mandi, lanjut menuju surau untuk menegakkan shubuh berjamaah dengan warga.
Seusai dari surau diri ini tak kuasa membendung akan rasa kantuk
Cinta, kerja, harmony
Mahabbatullah
- Mengingat nikmat Allah
- Taat kepada Aĺlah
- Berkorban Di jalan Aĺlah
- Mengingat Aĺlah / dzikir
- kepada Aĺlah tasbih
- Kepada rosulullah sholawat
- Kepada diri sendiri istighfar
Kerja 'horizontal'
AMAL
- Ta'abudy
- Da'awy
- Ijtamai
Harmony 'hasil'
Jaman rosulullah piagam madinah
Ukhuwah islamiyah
Selasa, 18 Desember 2012
Evaluasi :
Setiap rutinitas bakalan bosan atau malah tidak mendapatkan apa yang dikerjakan dalam aktivitas tersebut lantaran tidak adanya fokus kerja, hal ini salah satu sebabnya adalah orientasi yang salah dalam melakukan aktivitas tersebut, tidak paham terkait tujuan yang sebenarnya akan diraih dari aktivitas rutin dan kurang sinergisnya dengan visi misi hidup.
Tidak ada kata terlambat dalam melakukan perbaikan apalagi untuk menengok kembali rute aktivitas yang sudah dijalani apa sudah sesuai dengan peta yang akan mengantar tujuan pada visi misi hidup ini, waktu dan modal untuk mencapai tujuan kian berkurang untuk itu mesti selalu terarah perjalanan mencapai tujuan ini sehingga tidak terjadi kesia-siaan pada waktu serta modal.
Oke kalo begitu langsung untuk mengevalusi aktivitas rutin, saat ini paling tidak terbagi 3 segmen aktivitas yaitu segmen keluarga, segmen kerja dan segmen tarbiyah. Sebelum ke segmen tersebut ada juga terkait tarbiyah diri sendiri yang melingkupi ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah.
Ruhiyah inilah inti sebelum yang lainnya, karena dari ruhiyah yang kuat fikriyah dan jasadiyah bisa tertular untuk melakukan tarbiyah. Pada dasarnya ruhiyah ini adalah bagaimana komunikasi dengan sang Pencipta bisa lancar dan kontinu sarana efektifnya adalah komunikasi2 fardhu sebisa mungkin bisa dijaga dan dilanjutkan dengan yang sunnah muakkad. Teknisnya adlah sholat fardhu sebisa mungkin tepat waktu dan berjamaah kalopun di jam kerja sulit paling tidak berjamaah walaupun tidak tepat waktu, alternatif terakhir tidak menunda2 kalopun 2 pilihan sebelumnya tidak bisa diupayakan. Selanjutnya adalah qiyamullail dan tilawah, untuk qiyamul lail ini paling tidak sbg wadah efektif dalam penyegaran ruhiyah atas beban aktivitas di siang harinya. Untuk tilawah sendiri juga perlu namun bisa diganti dengan alternatif lain seperti hafalan ato baca tafsir yang terpenting interaksi dengan al'qur'an jgn sampai terputus.
Untuk fikriyah sendiri pada intinya adalah bagaimana otak ini terasah akan ilmu, ilmu disini paling tidak mencakup 2 hal yaitu islam dan umum/kerja untuk mengimbangi aktivitas di 3 segmen sehingga 3 segmen di jalani berdasarkan ilmu yang shahih. Terakhir jasadiyah ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja karena 2 yang pertama tadi tidak akan dilakukan tanpa adanya yang jasadiyah ini, terkait jasadiyah paling tidak 3 hal penting yang perlu diperhatikan yaitu makan, istirahat dan olahraga. Ketiganya harus dilakukan secara proporsional dan kontinu. Makan mesti bernilai gizi seimbang, istirahat juga mesti diseimbangkan dengan aktivitas yang dikerjakan serta olahraga rutin untuk menjaga kebugaran.
Oke sekarang ke 3 segmen aktivitas rutin pertama adalah segmen keluarga, seperti ruhiyah tadi yang bakalan menular ke fikriyah n jasadiyah segmen keluarga punya andil besar untuk kesuksesan di segmen kerja dan tarbiyah.
Keluarga yang terpenting adalah bagaimana suasana di rumah nyaman karena fungsi rumah sendiri adalah tempat untuk mencharge tenaga selepas aktivitas diluar sehingga kenyamanan rumah baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik sudah jelas adalah rumah yang bersih dan rapi, sedangkan secara psikologis adalah komunikasi/interaksi antar anggota keluarga harus terjaga kehangatannya. Selain itu di segmen keluarga juga mencakup hub dengan tetangga ini yang dirasa belum begitu optimal untuk itu perlu adanya cara/strateginya.
Segmen kerja ini adalah bagaimana memperbaiki budaya kerja profesional dan keilmuan terkait yang sesuai bidang kerja saat ini. Prioritas adalah budaya kerja profesional, seperti adanya list target pekanan ato bulanan sehingga bisa terarah dan menyeluruh aktivitas kerjanya, penting juga terkait komunikasi baik itu dengan struktur kerja seperti ke atasan begitu juga ke sesama. Terutama terkait kaidah komunikasi seperti pelaporan. Begitu juga dengan pelanggan dan mitra kerja.
Segmen tarbiyah
Segmen yang menjadi proyek besar dan sinergis dengan visi misi hidup sendiri sebagai seorang muslim, segmen tarbiyah ato biasanya disebut dunia dakwah kebetulan sekarang diamanahkan dengan dakwah sekolah. Segmen ini terbagi atas 2 hal yaitu sisi tarbiyah dan daawi. Tarbiyah sekarang ada 3 yaitu 1 berperan sbagai objek dan 2 lainnya sebagai subyek. Sebagai obyek ini tidak lain untuk sarana tarbiyah diri sendiri secara langsung. Sedangkan sebagai subyek yaitu mentoring BSS dan liqo' anak kader untuk memberikan tarbiyah ke obyek. Output obyek sendiri adalah melahirkan calon2 sdm sebagai subyek untuk istimroriyah dan perluasaan wilayah dakwah.
Sisi daawi dimana saat ini diamanahkan sebagai mas'ul 4 zona wilayah sekolah2 yang tersebar di Malang. Poinnya adalah bagaimana terbentuk komunikasi yang baik antar wilayah sekolah sehingga mobilisasi antar sekolah juga mudah. Untuk mencapai itu pembinaan dan pendampingan di setiap zona mesti optimal dan efektif sehingga melahirkan sdm2 pendukung dakwah yang masif.
Rabu, 07 November 2012
Jumat, 18 Maret 2011
Badai itu memberikan tenaga lebih untuk perahu ....
...
Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan.
Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu.
Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan.
Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!'
Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang,
'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)
Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan."
Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.
*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi
Selasa, 28 Desember 2010
freedom islam
Bismillah...Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih Maha Penyayang,
Dewasa ini begitu berkembang pemikiran-pemikiran baru yang lahir seiring dengan perkembangan teknologi dan juga era globalisasi. Sebagai seorang muslim tentunya perlu adanya sikap kehati-hatian jika tidak akan juga tergerus dengan pemikiran-pemikiran baru tersebut. Maksud saya kita sebagai seorang muslim mesti sebisa mungkin tetap mempertahankan pemikiran islam yang orisinal sesuai ajaran Rosulullah. Perlu diingat bahwa suatu amal akan diterima jika amal itu memenuhi dua syarat yakni ditujukan karena Allah semata dan sesuai dengan ajaran Rosul.
Oke kawan penting rasanya kalau membahas yang nama pemikiran-pemikiran baru yang bisa merusak pemikiran orisinal islam jika tidak diantisipasi sejak dini. Pemikiran baru itu biasa disebut SIPILIS, itu adalah sebuah singkatan dari Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Maka pada kesempatan kali ini ijinkan saya membahas pada poin ketiga liberalisme.
Mencermati berbagai perkembangan liberal di kalangan umat islam, setidaknya ada tiga aspek penting dalam islam yang sedang gencar mengalami liberalisasi saat ini, yaitu:
- Syariat islam, dilakukan dengan perubahan metodologi ijtihad
- Al-qur’an dan tafsir Al-qur’an, dengan melakukan dekonstruksi konsep wahyu dalam islam dan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-qur’an
- Aqidah islam, dengan penyebaran paham pluralism Agama.
1. Dalam aspek syariat, berbagai hokum-hukum yang tetap (qath’iy) dibongkar dan diubah untuk disesuaikan dengan zaman, seperti hokum perzinahan, hokum homoseksual, hokum murtad, perkawinan antaragama dan sebagainya. Bagi kaum liberal, maka tidak ada yang tetap dalam agama, sebab mereka memandang agama adalah bagian dari proses dinamika sejarah, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani liberal dalam memandang agama mereka. Padahal asal kita tahu sendiri islam bukanlah agama evolutif, yang berkembang mengikuti zaman. Agama sudah sempurna sejak awal (QS: Al-maidah 3) “…pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku Cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku Ridhai Islam sebagai agamamu…. “ sejak lahirnya islam sudah dewasa bukan lahir bayi lalu berkembang menjadi dewasa sebagaimana agama-agama sejarah dan budaya seperti Yahudi, nasrani dan sebagainya. Oleh karena itu kawanku semua bahwa konsep dasar aqidah dan ritual (ibadah) dalam islam sudah bersifat final tanpa adanya babak penyisihan ataupun knockout lagi hehe maaf lagi demam bola oke focus lagi jadi kesimpulannya islam adalah bukan agama sejarah camkan itu.
2. Selanjutnya dalam aspek Al-qur’an umat islam khususnya kita warga Indonesia juga sedang memasuki babak baru , dengan dikembangkannya metode studi kritik Qur’an, mengikuti metode studi kritik Bibel. Desakralisasi Al-qur’an sedang dilakukan dengan massif. Kasus penginajakan lafal Allah di IAIN Surabaya, untuk dicermati dalam kasus ini adalah cara pikir dengan penuh kesadaran menginjak lafal Allah itu merupakan sebuah cara piker yang salah dan sangat naïf. Tapi dari cara berpikir yang memandang Qur’an sebagai produk budaya itulah sehingga ia melakukan tindakan menginjak lafal Allah. Dia bukan sedang bersandiwara, dia telah membuktikan dengan ilmu yang salah melahirkan tindakan yang salah. Inilah sebuah contoh, dahsyatnya sebuah kerusakan ilmu,
3. Pluralisme agama berarti bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi menurut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama bias dikatakan Tuhan siapa pun namaNya tidak menjadi masalah. Perkataan “ semua agama benar “ atau “ semuanya benar” juga tidak secara konsisten oleh pengusung ide pluralism agama, karena pada saat yang sama mereka juga merasa benar sendiri dan menyalahkan para pemeluk agama yang meyakini kebenaran agamanya masing-masing.
Sebagai informasi saja buat kawanku semuanya ternyata paham liberal itu bagai jamur di kala musim hujan dimana pahamnya begitu berkembang pesat tidal lagi pada lingkungan yang jauh dari agama melainkan yang sehari-hari bergelut dalam mempelajari seperti kasus penginjakan lafal Allah di IAIN. Youp dalam kalangan perguruan tinggi semisal IAIN atau sekarang berubah menjadi UIN itulah paham itu tumbuh subur terutama di pucuk pimpinannya walaupun minoritas namun dampaknya begitu besar. Beberapa tokoh liberal antara lain Mukti Ali, gus dur, nurcholish madjid, syarif hidayatullah dan masih banyak lagi.
Moslem_dcx @home
Kamis, 29 Juli 2010
Materi Halaqah 2
RISALAH PEMUDA ISLAM
TUJUAN
Peserta memahami pentingnya masa muda
Peserta mengetahui cara mengembangkan potensi pemuda Islam
Peserta termotivasi memanfaatkan potensinya dalam aktifitas yang Islami
METODA PENDEKATAN
Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda Islam dalam kehidupan amat penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah umat manusia pada umumnya.Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner karena secara psikologis manusia mencapai puncak hamasah (gelora semangat) dan quwwatul jasad (kekuatan fisik) pada usia muda.Hal tersebut menumbuhkan semangat pergerakan, perubahan, bukan stagnasi ataupun status quo.Dalam setiap kurun waktu, kemarin, kini dan esok, pemuda senantiasa berdiri di garis terdepan.Baik sebagai pembela kebenaran yang gigih ataupun sebagai pembela kebatilan yang canggih.
Di dalam al-Qur’an peran pemuda diungkapkan dalam kisah Ashabul Kahfi [18:19-22], kisah pemuda Ibrahim [21:60,69 dan 2:258] dan pemuda yang dibunuh oleh Ashabul Uhdud [lihat tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Buruuj] dan para Assabiqunal Awwalun pada umumnya berusia muda.
Pentingnya memanfaatkan masa muda digambarkan dalam hadits Rasulullah SAW sbb:”Manfaatkanlah yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa miskinmu; masa hidupmu sebelum datang masa matimu; masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.” [HR. al-Baihaqi]
Bagaimana potensi pemuda itu dapat dikembangkan dalam bingkai Islam? Setidaknya mereka dituntut melaksanakan sepuluh risalahnya:
1. Memahami Islam
Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam [ QS Al Fatir (35):28 dan QS Al Mujadillah (58):11].
“Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikan dalam agama.” [HR. Bukhari-Muslim]
“Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrullah dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” [HR.At-Tirmizi]
2. Mengimani segenap ajaran Islam
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk [23:51].Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya [ QS Al Baqoroh (2):165] dan ittiba’ (mengikuti) Rasul-Nya [ QS Al Imron (3):31 dan QS An Najm (53) :3-4].
3. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam
Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam [103:1-3; 41:33; 3:110; 9:71; 5:78-79].
“Barangsiapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” [HR.Muslim]
4. Berjihad di jalan Islam
Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin.Said Hawa membagi jihad menjadi
· Jihad lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW [5:62].
· Jihad maali atau jihad dengan harta [49:15; 9:111].Jihad dengan harta merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.
· Jihad bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan /kekuasaan dan jiwa [22:39, 2:190, 8:39, 9:36].Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, usaha mempertahankan diri terhadap serangan mereka, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontak atau pembangkang atas negara Islam.
· Jihad siyaasi atau jihad politik.
· Jihad tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam [3:79].
5. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam
[21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9].
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqomah.”Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” [HR. Abu Nu’aim].
6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam
Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah Islamiyah sesama muslim [8:63, 59:9]. “Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lain saling mengokohkan.” [Al-Hadits]
7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam
Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien [3:146]
8. Optimis terhadap masa depan Islam
Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis.Sebaliknya harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT.Hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis [12:87, 15:56].
9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktifitas yang telah dilakukan
Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik [13:11].
“Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” [HR.At-Tirmizi].
10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam
Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka.” [HR. An-Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash]
REFERENSI
Majalah Islam “Sabili”, No.33/11 Januari 1991
Husni Adham Jarror, Bercinta dan Bersaudara karena Allah, GIP




